Ini hasil Ms Word. tugasnya meliputi mengetik, word art n picture.
hasil UTS ms Word tersebut dapat diunduh via 4shared disini
Senin, 24 Juni 2013
Beberapa Peraturan mengenai Teknologi Informasi dan Komunikasi
Ini adalah beberapa UU dan PP ataupun Kepres yang membahas tantang Teknologi Informasi dan Komunikasi
1. Kepres Nomor 20 tahun 2006 tentang Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional klik disini
2. Perda Jateng Nomor 6 tahun 2012 tentang Pelayanan Informasi Publik klik disini
3. Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 47 Tahun 2012 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2012 Tentang Pelayanan Informasi Publik Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Provinsi Jawa Tengah klik disini
4. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2011 Tentang Layanan Informasi Publik Di Lingkungan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan klik disini
1. Kepres Nomor 20 tahun 2006 tentang Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional klik disini
2. Perda Jateng Nomor 6 tahun 2012 tentang Pelayanan Informasi Publik klik disini
3. Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 47 Tahun 2012 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2012 Tentang Pelayanan Informasi Publik Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Provinsi Jawa Tengah klik disini
4. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2011 Tentang Layanan Informasi Publik Di Lingkungan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan klik disini
Minggu, 16 Juni 2013
UTS Excel
Ini hasil uts ms excel ku.
tugas nya adalah membuat daftar nilai praktikum TIK.
didalamnya memakai beberapa rumus diantaranya menghitung rata-rata nilai, membuat nilai huruf, membuat predikat nilai dan memberi keterangan lulus tidak lulus.
hasil UTS Ms Excel tersebut dapat diunduh via 4shared disini
tugas nya adalah membuat daftar nilai praktikum TIK.
didalamnya memakai beberapa rumus diantaranya menghitung rata-rata nilai, membuat nilai huruf, membuat predikat nilai dan memberi keterangan lulus tidak lulus.
hasil UTS Ms Excel tersebut dapat diunduh via 4shared disini
Jumat, 14 Juni 2013
Selasa, 11 Juni 2013
Contoh Karya Tulis Singkat
Waktu itu dikasih tugas membuat Karya Tulis Singkat word dengan tema bebas. trus aku kepikiran buat bikin dalam bentuk eposisi dan jadinya seperti ini..
PANCAKE BUAH
DAFTAR
ISI
DAFTAR
ISI
A.
PENDAHULUAN
1. Latar
Belakang
2. Permasalahan
3. Tujuan
4. Manfaat
B.
ISI
1. Bahan
dan Alat
2. Cara
Pembuatan
Senin, 10 Juni 2013
Tugas Movie Maker
Tugas Movie Maker ku bikin Video Klip nya fatin nih. mengkombinasikannya dengan foto-foto boneka taddy bear dalam berbagai pose dan kejadian.. jadinya lucu lhoh.. dan ternyata bikin movie maker itu mudah..
lets enjoy it :D
lets enjoy it :D
Minggu, 02 Juni 2013
Ms Excel
Contoh pengerjaan Ledger dan Daftar Nilai Murid klik disini
Contoh daftar nilai ujian komputer klik disini
ms excel dengan absolut klik disini
tugas-tugaas tersebut memuat bagaimana menghitung nilai akhir, bagaimana membuat nilai rata-rata, menentukan nilai tertinggi, nilai terendah dan memberikan peringkat pada murid.
Contoh daftar nilai ujian komputer klik disini
ms excel dengan absolut klik disini
tugas-tugaas tersebut memuat bagaimana menghitung nilai akhir, bagaimana membuat nilai rata-rata, menentukan nilai tertinggi, nilai terendah dan memberikan peringkat pada murid.
Sabtu, 01 Juni 2013
CONTOH JURNAL ILMIAH
METODE GASIF PENGAJARAN MEMBACA DAN PENULISAN : SEBUAH PEMIKIRAN
I Wayan Rasna
Universitas Pendidikan Ganesha
Abstrak: Artikel ini mengkaji metode pengajaran membaca dan menulis permulaan, yang merupakan fondasi vital dan kebutuhan primer setiap anak didik untuk dapat melanjutkan studinya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Fondasi vital dan kebutuhan primer ini diperlukan atas hasil riset Ismail yang dikutip Imran membuktikan bahwa keterampilan menulis siswa Indonesia paling rendah di Asia. Hal ini diduga karena rendahnya kemampuan membaca siswa. Sebagaimana dilaporkan oleh Bank Dunia pada 1988 hasil tes membaca murid SD di Indonesia berada pada peringkat terendah di Asia Timur. Atas dasar ini, pengajaran membaca dan menulis permulaan perlu dicarikan solusi. Salah satu solusi itu ialah pengajaran membaca dan menulis permulaan dengan metode analisis – sintetis dan fonik (GASIF). Global (G) berperan memberikan gambaran umum dengan tujuan memudahkan siswa untuk belajar. Hal ini sesuai dengan konsep belajar yang dimulai dari yang mudah ke yang sulit.
Abstract: This article investigates a method of teaching early reading and writing which forms the vital foundation and primary need of every child to be able to continue his or her study to a higher level. This vital foundation and primary need is badly needed based on the finding of Ismail’ s research as quoted by Imran that proves that the writing skill of the Indonesian students is the lowest in Asia. It is assumed that this has been caused by the students’ low reading ability . As reported by World Bank in 1988, the primary school students’ writing achievement was at the lowest rank in East Asia . On this basis, we need to find solutions to the problem in the teaching of early reading and writing. One of the solutions is by using Global Analysis- Synthesis and Phonic (GASIP).
Kata kunci: GASIF, Membaca, Menulis Permulaan
Rendahnya mutu pendidikan telah menjadi isu sentral yang telah banyak ditulis dan dibicarakan, baik dalam situasi formal maupun nonformal. Atas persoalan ini terjadilah tudingan dalam wajah lingkaran setan antara pihak perguruan tinggi, SMTA, SMTP, SD, dan akhirnya kembali lagi ke perguruan tinggi. Nampaknya, lingkaran setan ini tidak pernah berakhir .
Postleth Waite (1987) menyebutkan bahwa kualitas pendidikan di negara-negara berkembang jauh lebih rendah dibandingkan kualitas pendidikan di negara-negara maju. Dilihat dan produknya, cukup jelas bahwa prestasi belajar akademis siswa di negara berkembang lebih rendah daripada pres-tasi mereka di negara maju. Di samping itu, ada kekhawatiran terhadap kualitas pendidikan paling tidak sejak sepuluh tahun terakhir ini (Fuller 1986 dan juga Suryadi dan Tilaar, 1993 : 122). Bahkan Suryadi dan Tilaar menegaskan bahwa sistem pen-didikan di Indonesia tampaknya masih mengalami masalah rendahnya kualitas yang serius (Suryadi dan Tilaar, 1993: 123).
Isu-isu yang bertalian dengan rendahnya mutu pendidikan telah menjadi isu sentral yang banyak ditulis dan diperbincangkan baik dalam forum resmi maupun tidak resmi, tudingan yang sudah menjadi lingkaran setan antara perguruan tinggi, SMTA, SLTP, SD, masyarakat, dan pada akhirnya kembali lagi kepada perguruan tinggi, rupa-rupanya, hal ini tidak akan pernah berakhir.
Sekolah Dasar yang dianggap sebagai dasar yang harus dilalui dan diperlukan bagi setiap anak, baik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi maupun untuk hidup, tetap mendapat sorotan tajam dari berbagai pihak. Para pengamat dan pakar pendidikan menilai, bahwa siswa seko-lah dasar sekarang hanya pandai menghafal, tetapi tidak mampu memecahkan masalah yang menun-tut kemampuan analitis.
Masih banyak kritik yang dilontarkan tanpa suatu pemecahan yang berarti. Pendapat yang mengkotak-kotakkan serta memisahkan masalah pendidikan berdasarkan penjenjangan merupakan pendapat yang perlu dikaji ulang, sebab masalah pendidikan merupakan masalah yang kompleks, sebagai kesatuan sistem yang merupakah suatu kebulatan.
Jenjang pendidikan dasar merupakan landa-san bagi jenjang pendidikan selanjutnya. Oleh ka-rena itu, pada landasan tersebut, diletakkan dasar-dasar yang kokoh bagi tegaknya bangunan pen-didikan secara menyeluruh. Sekolah dasar enam tahun sebagai bagian dan pendidikan dasar sem-bilan tahun merupakan lembaga pendidikan pertama bagi peserta didik untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung. Kecakapan ini merupakan landasan dan wahana pokok yang menjadi syarat mutlak yang harus dikuasai oleh peserta didik.
Membaca merupakan salah satu kemampuan dasar yang mempunyai sifat strategis sebagai akti-vitas yang kompleks dengan mengerahkan sejum-lah besar tindakan. Kemampuan dasar ini harus dikembangkan secara optimal sejak peserta didik duduk di kelas I SD.
Sifat strategis membaca adalah sebagai berikut. Pertama, membaca adalah alat untuk bela-jar, untuk memperoleh informasi yang akan diorga-nisasikan dan disimpan oleh pikiran, untuk selan-jutnya direkonstruksi untuk penggunaan di masa mendatang. Kedua, membaca berfungsi mengem-bangkan pengetahuan kebahasaan atau generalisasi kebahasaan. Ketiga, membaca meningkatkan ke-mampuan berpikir. Oleh karena itu, usaha-usaha memaksimalkan kemampuan membaca adalah sangat penting.
Dalam rangka memaksimalkan kemampuan membaca ini, penulis mencoba merevitalisasi me-tode membaca dan menulis permulaan yang ber-landaskan kepada hasil penelitian Hibah Bersaing Suparman Herusantosa (1996). Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa Metode Global dan Metode SAS lebih baik daripada metode lain. Terbukti pula, bahwa Metode SAS lebih baik dari-pada Metode Global. Oleh karena itu, dibutuhkan metode gabungan yang diberi nama Metode Global Analisis Sintesis Fonik (GASIF). Nama Fonik per-lu ditambahkan agar tidak tergelincir pada metode alfabetik. Metode gasif merangkum komponen :
a) dasar-dasar linguistik (fonetik organis, psiko-linguistik, sosiolinguistik, dan linguistik des-kriptif);
b) prinsip kerja (global, analisis, sintesis, ulang-an, dan fonik);
c) peranan alat peraga, dan
d) proses pembelajaran menulis.
PEMBAHASAN
Dasar-dasar Lingusitik Metode Gasif
1) Fonetik Organis
Fonetik ini mengkhususkan studinya pada cara terbentuknya bunyi bahasa oleh alat bicara, yaitu artikulator dan titik artikulasi.
Ada dua cara yang menyebabkan terjadinya bunyi bahasa. Pertama dengan sistem regresif, yai-tu udara keluar dan paru-paru menuju rongga mulut atau rongga hidung, kemudian ke luar ke alam be-bas. Hampir seluruh bahasa di dunia menggunakan sistem ini, termasuk Bahasa Indonesia. Sistem ke dua adalah sistem ingresif, misalnya Bahasa Bima mempunyai /b, d, g /, Bahasa Swedia mempunyai /j/ ingresif (aliran udara ke dalam).
Secara sederhana, mekanisme alat bicara sampai menghasilkan bunyi bahasa, bisa dituturkan sebagai berikut.
(a) Dengan gerak sekat rongga badan, maka udara akan tersalurkan melalui paru-paru;
(b) Udara tersebut akan melalui pangkal teng-gorokan (laringal) dan pita suara menuju ke rongga kerongkongan (faringal);
(c) Setelah tiba di rongga kerongkongan, udara akan keluar melalui salah satu di antara rongga mulut atau rongga hidung;
(d) Kalau anak tekak bergerak ke belakang se-hingga jalan menuju rongga hidung ter-tutup, maka udara akan keluar melalui rong-ga mulut, dan yang terjadi adalah bunyi-bunyi oral;
(e) Kalau anak tekak bergerak ke depan dan pangkal lidah bergerak ke belakang sehing-ga saluran udara lewat rongga mulut tertu-tup, maka udara akan tersalur lewat rongga hidung, dan bunyi-bunyi yang terjadi adalah bunyi nasal.
Berdasarkan kajian fonetik organis ini, maka huruf yang dikenalkan pada cawu I sebanyak 10 huruf (a, i, u, e, o, m, n, s, 1, dan r). Hal ini terjadi karena: (1) semuanya tergolong huruf yang bisa ditahan , dan (2) untuk vokal, udara yang keluar dari paru-paru (setelah menggetarkan pita suara) tidak mendapat hambatan baik sebagian maupun secara keseluruhan. Soenjono Dardjowidjojo (2003 : 197) menyebutkan kaitan biologi dengan bahasa adalah di samping struktur mulut manusia yang secara biologis berbeda dengan struktur mulut binatang, bahasa juga terkait dengan biologi dari segi yang lain, terutama pada proses pemerolehan bahasa. Hal ini diungkapkan Lenneberg (1967 : 13) bahwa terdapat keterkaitan antara biologi manusia dengan bahasa seperti umur 12 minggu bayi tidak banyak menangis, bila didekati akan tersenyum diikuti bergumam kurang lebih 15-20 detik. Umur 16 minggu beraksi terhadap bunyi bahasa, kadang-kadang tertawa. Umur 20 minggu gerakan moto-riknya berupa duduk dengan disangga, sedangkan vokalisme bahasa adalah bergumam yang diselingi konsonan labial frikatif, spiran, dan nasal, semua vokal telah berbeda dari bunyi di sekitar. Pertumbuhan biologi ini tampak pula dalam kon-struksi fisik mulut seorang anak. Pada saat seorang anak dilahirkan, fisiologis mulutnya masih sangat terbatas, Stark (1981) tampak bahwa (a) laringnya masih tinggi, (b) lidahnya relatif besar (c) daerah gerak di mulut sangat sempit, dan (d) lidah masih bersandar pada belakang bibir. Hal ini sesuai dengan penelitian Oesterreich (1999) bahwa per-kembangan lingual anak mengikuti perkembangan usianya.
Cawu II diperkenalkan sebanyak 12 huruf (b, c, d, g, h, j, k, p, t, w, y, ng). Huruf-huruf ini diberikan pada cawu II, dan bukan pada cawu I karena hasil analisis memnbuktikan bahwa ketidak-tepatan dan atau kesalahan membaca siswa dise-babkan oleh (1) kesulitan membaca bunyi yang tidak bisa ditahan, (2) secara fisik, bunyi seperti p, b, dan d sulit dibedakan, apalagi jika diberikan pa-da cawu I. Oleh karena itu, tidak diberikan pada cawu I, dan (3) secara kognitif, anak kelas I cawu I yang berasal dari Taman Kanak-kanak (TK) saja masih sulit sekali untuk diminta berpikir membe-dakan, seperti u dengan n; n dengan m. Apalagi yang berasal dari non-TK.
Berdasarkan kepada pembagian huruf cawu I dan II di atas, maka huruf untuk cawu III adalah selain cawu I dan II, yaitu f, g, v, x, z, ny, sy, dan kh. Jadi ada 8 (delapan) huruf. Perlu dijelaskan bahwa /f, v, sy, dan kh/ adalah bunyi pungutan.
2) Sosiolinguistik
Dasar-dasar sosiolinguistik menjadi landasan penting dalam pengajaran bahasa, khususnya yang mengacu pada keterkaitan sosiokultural anak didik dalam bidang kosakata. Kosakata yang digunakan dalam bacaan hendaknya kosakata yang berlan-daskan keadaan sosiokultural anak didik. Sebabnya adalah konfigurasi penalaran seseorang bergantung antara lain kepada lingkup kosakata yang dimili-kinya dan pemilikan kosakata tersebut banyak ditentukan oleh lingkungan sosiokulturalnya. Hal ini selaras dengan konsep bahwa sistem bahasa suatu masyarakat bukannya membentuk atau mem-pengaruhi struktur kognitif dan struktur sosiokultural masyarakat penuturnya, tetapi faktor lingkungan itu hanya memicu apa yang sudah ada pada biologi manusia (Dardjowidjojo, 2003 : 1999). Hal ini sejalan dengan konsep E. Durkheim bahwa bahasa berfungsi sebagai wadah atau perekam konsep-konsep budaya masyarakat penu-turnya. Oleh karena itu, maka :
(a) latar belakang sosiokultural siswa sangat penting diperhatikan dalam materi pengajaran bahasa, dan Hakuta (1975) dan Burt dan Dulay (1981) dan;
(b) materi pengajaran Bahasa Indonesia perlu disusun oleh para ahli yang mempunyai lingkungan yang sama atau paling dekat dengan lingkungan sosiokultural murid (Hakuta, 1975).
Latar belakang sosiokultural akan meng-gambarkan secara nyata aspirasi masyarakat dan kebutuhan anak didik yang dengan sendirinya ini sejalan dengan kebutuhan daerah. Aspirasi masya-rakat yang dikemukakan oleh orang -orang dewasa tergambar dalam nilai-nilai yang hidup pada masa sekarang dan semuanya patut dilestarikan melalui pendidikan formal. Watak aspirasi semacam ini bersifat imperatif (Raka Joni, 1984), tetapi kadang-kadang terasa konservatif terhadap dunia pendi-dikan sehingga anak didik merasa dirugikan, setidak-tidaknya dipaksa untuk tahu, untuk memi-kirkan, untuk membayangkan sesuatu yahg asing baginya. Untuk menghindari hal seperti ini, harus-lah diperhatikan pula aspirasi anak didik yang tergambar dalam kehidupan mereka sehari-hari sambil memperhatikan prospek masa depan mere-ka. Dengan demikian, kewenangan masyarakat untuk mengarahkan tujuan dan isi pendidikan harus dipadukan dengan hak anak didik.
Pernyataan di atas sejajar dengan pandangan kini yang menempatkan siswa sebagai subjek didik, bukan sebagai objek didik. Hak anak didik seperti ini antara lain dapat terlihat pada kegiatan interaksi verbal, baik interaksi verbal dengan orang dewasa maupun di antara sesama mereka. Peneli-tian produksi tutur anak kemudian dimanfaatkan untuk pengajaran bahasa. Antara lain untuk menyu-sun bahan dan urutan pelajaran sudah banyak dilakukan orang sejak dua dasa warsa terakhir ini. Hasil penelitian yang berbau sosiolinguistik dan psikolinguistik ini haruslah dikembangkan ke wilayah kehidupan anak yang lebih luas.
3) Psikolinguistik
Acuan utamanya adalah umur siswa sekolah dasar, khususnya di kelas rendah, yang kemam-puan berpikirnya berbeda dengan siswa di kelas tinggi. Keadaan ini dihubungkan dengan penentuan kata-kata yang mudah dan sukar dicerna. Kata-kata ini dirangkum dalam globalitas yang berwujud cerita dengan prinsip utama metode gasif. Suku kata yang secara psikolinguistik paling dulu diucapkan oleh anak yang baru belajar berbahasa ialah pada, ma, ba dan tidak mudah berbicara dengan Hotdog, Hamburger, atau pizza. Sebab itu, bunyi konsonan yang paling dulu harus diperkenalkan ialah / p /, , / m /, dan vokal / a /, / i /, / É™ /, / e /, / u /, dan / o / (Periksa Dardjowidjojo, 2000:81). Sistem menulis alphabetic menggambar-kan bahwa visual dihubungkan dengan fonem. Sistem menulis ini sangat sukar untuk anak-anak karena fonem-fonem yang harus mereka kenal tidak pernah diucapkan terpisah dari fonem lain, melainkan selalu dikaitkan dengan fonem lain dalam bentuk silaba atau kata. Hal ini berimplikasi pada kemampuan membaca anak. Sebab anak susah sekali membedakan fonem / p / dengan / b / atau / g / dengan / k / (Samsunuwiyati Mar’at, 2005 : 80). Sebab itu, dapat dimengerti anak-anak yang baru masuk akan mengalami kesulitan dalam mem-baca dan menulis.
Metode mengajar membaca yang disebut metode global mempunyai kekurangan, yaitu anak-anak menjadi kurang menyadari prinsip-prinsip alphabetic, karena anak terlatih melihat perkataan sebagai suatu gambar keseluruhan (integrated picture), seperti dalam sistem menulis logographic (simbol visual dihubungkan dengan perkataan, seperti sistem menulis orang Tionghoa).
Metode SAS (Struktur Analisis Sintesis) kenyataannya cenderung membuat anak untuk menghafal satuan bentuk kata, tanpa mengenal satuan bunyi. Akibatnya, apabila unsur bunyi itu dipertukarkan tempatnya, maka anak kesulitan membacanya, meskipun unsur bunyinya sama.
4) Dasar-Dasar Lingustik Deskriptif
Linguistik deskriptif yang sangat sederhana diterapkan di sini, khususnya yang berkaitan dengan aspek analitis dan sintesis bunyi bahasa.
Cara Kerja Motede Gasif
a) Prinsip Global : Penelitian HB Suparman Herusantosa membuktikan bahwa Metode Global dan Metode SAS dianggap paling efektif dan efisien untuk mengajarkan membaca permulaan. Kedua metode tersebut menggunakan globalitas dalam wujud cerita untuk mengawali tiap pelajaran. Dalam cerita tersebut disisipkan kata atau kalimat yang nantinya akan diajarkan kepada siswa. ini merupakan cara pengenalan kata atau kalimat sebagai wujud global dalam membaca permulaan.
b) Prinsip Analitis : dalam cerita tersebut didemontra semua itu menunjukkan proses analitis. Proses selanjutnya ialah mengurai-kan sebuah kata, misalnya menjadi suku kata, dan suku kata menjadi bunyi-bunyi bahasa.
c) Prinsip Sintesis : Setelah siswa mengenal lambang-lambang bunyi (dalam wujud huruf), siswa diajarkan untuk menggabung-kan atau mensintesiskan huruf menjadi suku kata dan seterusnya untuk menjadi kata dan kalimat; Proses sintesis inilah yang menja-di kunci keberhasilan membaca permulaan.
d) Prinsip Ulangan : untuk memberikan ketangguhan kepada siswa tentang proses identifikasi bunyi dan lambangnya atau lambang dan bunyinya, maka pengulangan dianggap perlu. Yang dimaksud ulangan di sini adalah digunakannya huruf yang sudah diajarkan pelajaran berikutnya.
e) Prinsip Mengeja Metode fonik pada tahap awal mengharuskan siswa untuk mengeja setiap bunyi bahasa yang dipelajari; dengan terlatih mengeja setiap bunyi bahasa, maka siswa tidak akan asal bunyi (asbun), pada akhirnya proses mengeja secara lahiriah (lafalnya terdengar orang lain).
Catatan Khusus Pengajaran Bunyi Bahasa
Perlu dan harus diberikan perhatian khusus pada pengenalan bunyi yang bersifat membeda-kan. Bunyi yang bersifat membedakan ialah /m/ - /n!, /u/ - /n/, /b/ - /p/ - /d/, /u/ - /w/, /v/ - /w/. Perhatian khusus dilakukan dengan jalan sebagai berikut.
1) Pengajaran membaca permulaan pada awal cawu I hendaknya dilakukan dengan tidak menempatkan bunyi yang bersifat membedakan dalam satu kata, sebelum siswa menge-nal dan memahami bunyi dan bentuk huruf tersebut.
Contoh :
Benar Benar Salah
ma – ma me – me ma – na
me – me ma – mi na – ma
2) Pengajaran membaca permulaan pada akhir cawu I dapat dilakukan dengan menempat-kan bunyi yang bersifat membedakan, apabi-la siswa sudah memahami bunyi dan bentuk huruf /m/ dan /n /.
Contoh : mina
mona
3) Pengulangan bunyi yang lebih, pada bunyi-bunyi yang bersifat membedakan dibanding-kan dengan yang tidak bersifat membe-dakan. Bunyi yang bersifat membedakan ialah : /m/ - /n/, dan /u/ - /n/untuk cawu I, /b/ - /d/, /p/ - /b/, /p/ -/d/, /u/ - /w/, /g/ - /y/, /g/ - /j/, dan /y/ - /j/ untuk cawu II, dan /v / - /w/ untuk cawu III.
4) Pada awal cawu II hendaknya dilakukan dengan tidak menempatkan bunyi-bunyi yang bersifat membedakan dalam satu kata seperti yang telah dilaksanakan pada cawu I.
Contoh :
Benar Salah
pa – pa pa – da
da – da bo – do
bo – bo bo – di
5) Akhir cawu II dapat dilakukan dengan menempatkan bunyi yang bersifat membeda-kan dalam satu kata, apabila siswa sudah me-mahami bunyi dan bentuk huruf yang ber-sifat membedakan itu.
Contoh : bu — di
bu — da
pa — du
6) Pengulangan bunyi yang bersifat membe-dakan biasanya tidak cukup 3 kali, apalagi pada cawu I. Kecuali pada siswa yang ke-mampuannya di atas cukup.
7) Bunyi-bunyi yang tidak bersifat membeda-kan seperti /a/, /i/, /1/ biasanya pengulangan ke tiga sudah cukup untuk mengantarkan pe-mahaman anak.
8) Dasar pemikiran untuk tidak menempatkan bunyi-bunyi yang bersifat membedakan dalam satu kata pada tahap awal adalah kemampuan berpikir siswa masih tunggal, dan belum mampu berpikir majemuk pada usia 6 - 7 tahun (kelas I SD).
Alat-alat Bantu Pengajaran
Alat bantu yang dianggap menunjang pelak-sanaan metode Gasif ialah:
a) Gambar peraga khususnya gambar yang digunakan secara klasikal untuk mengawali sebuah pelajaran yang selalu dimulai dengan sebuah cerita untuk menarik perhatian siswa;
b) Kartu-kartu huruf, kartu suku kata, kartu kata dan kartu kalimat yang bersifat individual maupun klasikal;
c) Kartu gambar dan huruf, kartu jenis ini sangat diperlukan untuk melatih siswa dalam aspek asosiasi antara struktur kata atau rang-kaian kata dan maknanya, memberikan pe-mahaman tentang struktur kata;
d) Papan tulis garis kotak, papan tulis garis tiga, papan flanel, selain papan biasa.
PENUTUP
Metode Gasif adalah metode mengajar membaca – menulis permulaan yang merupakan gabungan metode global, analitis – sintesis, dan fonik ini dimaksud untuk mengeliminasi model hafalan yang selama ini digunakan oleh siswa sebagai cara belajar.
Contoh Pengajaran Membaca dan Menulis Per-mulaan dengan Metode Gasif.
Pelajaran 1
I. Kegiatan di Sekolah
A. Keterampilan Mendengarkan
Tema : Keluarga
Huruf yang dikenalkan : b
Pelaksanaan Azas Global Metode Gasif.
Guru meminta siswa mendengarkan ucapannya, “Coba dengarkan cerita ini !
Keluarga Pak Basri (misalnya)
Penceritaan wacana ini oleh guru meru-pakan pelaksanaan prinsip kerja metode GAS1F, yaitu azas global I.
Selanjutnya, guru meminta siswa untuk memperhatikan gambar dengan ucapan, “Man kita perhatikan gambar ini! (sambil menunjuk gambar yang ada dalam bacaan). Ini merupakan azas global II.
Guru menginformasikan bahwa gambar tersebut adalah gambar keluarga “Pak Basri”, yang terdiri atas Pak Basri, Bu Darmi, dan anak-nya, Eka dan Cica yang sedang berada di kebun raya.
Coba tanya siswa “Yang mana Pak Basri?; Bu Darmi?; Eka?; Cica? Ciptakan situasi keke-luargaan dan keakraban. Jika sebagian besar sis-wa sudah menjawab benar, mintalah seorang sis-wa ke depan kelas (yang paling berani) untuk menunjuk ke gambar sambil menyebut namanya.
Usahakan jangan memaksa siswa yang be-lum berani, apalagi yang sulit bicara. Kegiatan yang akan dilakukan siswa di depan kelas ialah mengatakan:
Ini Pak Basri
Ini Bu Darmi
Ini Eka
Ini Cica
Catatan
1) Pada tahap awal, usahakan memilih siswa dan yang paling berani sampai yang masih dianggap berani. I
2) Jangan memaksa anak yang memang belum berani ke depan kelas, apalagi sampai menangis.
3) Berikan pujian kepada anak yang berhasil dengan baik.
4) Jangan mencela, apalagi ada anak setelah di depan kelas gagal! kurang berhasil.
5) Berikan bantuan kepada siswa yang mengalami hambatan.
B. Keterampilan Membaca
Keterampilan membaca untuk siswa kelas I berada pada posisi membaca permulaan. Pada posisi seperti ini, guru hendaknya banyak ber-peran sebagai motivator dan generator agar kete-rampilan ini lebih cepat tercapai.
Untuk mencapai tujuan ini, maka guru me-lakukan prinsip kerja metode GASIF azas global HI, yang berwujud sebuah kata yang dituliskan di bawah gambar seperti berikut.
b o l a
B.1 Analisis (Pelaksanaan azas analisis Meto-de Gasif)
Kata “bola” yang terdapat pada gambar di atas dijadikan pangkal tolak proses analisis pengenalan bunyi b (eb), seperti bola.
Contoh :
| BI | bi | ||
| b | i | b | i |
| b | i | b | ….. |
| ….. | i | ….. | i |
| b | ….. | b | ….. |
| b | i | ….. | ….. |
Latihan ini dimaksudkan untuk mengingatkan anak kepada bentuk bunyi huruf yang telah dipe-lajari, sekaligus latihan menulis. Bacaan pada Buku Pegangan Murid (BPM) digunakan untuk latihan membaca di rumah.
C. Keterampilan Berbicara
C.1 Pertanyaan
Sebelum pelajaran dimulai dan BPM dibuka, gu-ru sebaiknya bertanya kepada siswa,
1) Apa saja yang kamu lakukan di rumah?
2) Siapa yang berani angkat tangan?
3) Siapa yang berani menjawab?
4) Siapa namamu?
5) Berapa saudaramu?
6) Apakah kamu punya kakak?
7) Apakah kamu punya adik?
8) Siapa nama orang tuamu?
9) Di mana kamu tinggal?
10) Apa cita-citamu?
C.2 Tujuan pertanyaan di atas adalah sebagai berikut.
1) Bagian ini bertujuan untuk mengembangkan keterampilan berbahasa lisan siswa;
2) Mengenal lebih rinci benda yang ada di lingkungan keluarga; dan
3) Membina rasa cinta anak pada lingkungan maupun keluarga.
DAFTAR PUSTAKA
Burt, Marina dan Heidi Dulay.1981. Optimal Language Environment. Alatiset al (ed) (1981, 177-192)
Dardjowidjojo, Soenjono.2000. Echa. Kisah Pemerole-han Bahasa Anak Indonesia. Jakarta : Grasindo.
____________, 2003. Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.
Hakuta, Kenji. 1975. Learning to Speak as a Second Language : What Exactly does the Child Learn ?, Dato (ed) 1975, 193 – 207.
Lecours, Andre Roch. 1981. Morphological Maturation of the Brain and Functional Lateralisation for Verbal Skills. Lebrun dan Zangwill (ed) 1981.25-35.
Lennerberg, Eric H., ed. 1967. Biological Foundations of Language. New York : John Wiley & Sons.
Oesterrich, L. 1999. Language Development. [ Cited 15 September 2003. Available from :http.ohio-line.Osu.edu/ue/pdf/1529f.pdf.
Rasna, I Wayan, 1999. Studi Eksperimentasi Penelu-suran Model Buku Ajar yang Relevan dengan Perkembanan Kemampuan Berpikir Anak Usia SD: Studi Antisipatif Senjangan antara Kemampuan Berpikir dengan Tingkat Keterbacaan Buku Ajar. Jakarta, Dirjen Dikti Ditbinlitabmas : Laporan Penelitian.
____________ 2000. Studi Penelusuran Model Buku Ajar yang Relevan dengan Perkembangan Kemampuan Berpikir Anak Usia SD. Jakarta, Dirjen Dikti Dibinlitabmas : Laporan Penelitian.
Stark, Rachel. E.1981. Prespeech Segmental Feature Development. Dalam Fletcher dan Garman, 1981.
Suparman, Hs, dkk. 1995. Studi Eksperimentasi dan Penelusuran Efektivitas dan Efesiensi dalam PBM Membaca Permulaan di SD. Jakarta, Dirjen Dikti Ditbinlitabmas: Laporan Penelitian.
_____________ 1996. Studi Penelusuran Efektivitas dan Efesiensi Metode dalam PBM Membaca Permulaan di SD. Jakarta, Dirjen Dikti Ditbinlitabmas : Laporan Penelitian.
_______________ 1997. Pemanfatan Hasil Studi Eksperimentasi Penelusuran Metode Belajar Membaca Permulaan untuk Menyusun Paket Teknologi Pendidikan dalam Pembelajaran Membaca Permulaan. Jakarta, Dirjen Dikti, Ditbinlitabmas : Laporan Penelitian.
Suryadi, Ace dkk. 1989. Studi Mutu Pendidikan Dasar, Konsepsi Penelitian. Jakarta : Pusat Informasi Balitbang Dikbud.
Suryadi, Ace dan Tilaar. H.AR. 1993. Analisis Kebijakan Pendidikan Studi Pengantar. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya.
Langganan:
Postingan (Atom)
