METODE GASIF
PENGAJARAN MEMBACA DAN PENULISAN : SEBUAH PEMIKIRAN
I Wayan Rasna
Universitas Pendidikan Ganesha
Abstrak: Artikel ini mengkaji metode
pengajaran membaca dan menulis permulaan, yang merupakan fondasi vital dan
kebutuhan primer setiap anak didik untuk dapat melanjutkan studinya ke jenjang
pendidikan yang lebih tinggi. Fondasi
vital dan kebutuhan primer ini diperlukan atas hasil riset Ismail yang dikutip
Imran membuktikan bahwa keterampilan menulis siswa Indonesia paling rendah di
Asia. Hal ini diduga karena rendahnya kemampuan membaca siswa. Sebagaimana
dilaporkan oleh Bank Dunia pada 1988 hasil tes membaca murid SD di Indonesia
berada pada peringkat terendah di Asia Timur. Atas dasar ini, pengajaran
membaca dan menulis permulaan perlu dicarikan solusi. Salah satu
solusi itu ialah pengajaran membaca dan menulis permulaan dengan metode
analisis – sintetis dan fonik (GASIF). Global (G) berperan memberikan gambaran
umum dengan tujuan memudahkan siswa untuk belajar. Hal ini sesuai dengan konsep
belajar yang dimulai dari yang mudah ke yang sulit.
Abstract: This article investigates a method of
teaching early reading and writing which forms the vital foundation and primary
need of every child to be able to continue his or her study to a higher level.
This vital foundation and primary need is badly needed based on the finding of
Ismail’ s research as quoted by Imran that proves that the writing skill of the
Indonesian students is the lowest in Asia. It is assumed that this has been
caused by the students’ low reading ability . As reported by World Bank in
1988, the primary school students’ writing achievement was at the lowest rank
in East Asia . On this basis, we need to find solutions to the problem in the
teaching of early reading and writing. One of the solutions is by using Global
Analysis- Synthesis and Phonic (GASIP).
Kata kunci: GASIF, Membaca, Menulis
Permulaan
Rendahnya mutu pendidikan telah menjadi isu sentral
yang telah banyak ditulis dan dibicarakan, baik dalam situasi formal maupun
nonformal. Atas persoalan ini terjadilah tudingan dalam wajah lingkaran setan
antara pihak perguruan tinggi, SMTA, SMTP, SD, dan akhirnya kembali lagi ke
perguruan tinggi. Nampaknya, lingkaran setan ini tidak pernah berakhir .
Postleth Waite (1987) menyebutkan
bahwa kualitas pendidikan di negara-negara berkembang jauh lebih rendah
dibandingkan kualitas pendidikan di negara-negara maju. Dilihat dan produknya,
cukup jelas bahwa prestasi belajar akademis siswa di negara berkembang lebih
rendah daripada pres-tasi mereka di negara maju. Di samping itu, ada kekhawatiran terhadap
kualitas pendidikan paling tidak sejak sepuluh tahun terakhir ini (Fuller 1986
dan juga Suryadi dan Tilaar, 1993 : 122). Bahkan Suryadi dan Tilaar menegaskan
bahwa sistem pen-didikan di Indonesia tampaknya masih mengalami masalah rendahnya kualitas
yang serius (Suryadi dan Tilaar, 1993: 123).
Isu-isu yang bertalian dengan
rendahnya mutu pendidikan telah menjadi isu sentral yang banyak ditulis dan diperbincangkan
baik dalam forum resmi maupun tidak resmi, tudingan yang sudah menjadi lingkaran setan antara perguruan tinggi, SMTA, SLTP, SD, masyarakat, dan
pada akhirnya kembali lagi kepada perguruan tinggi, rupa-rupanya, hal ini tidak akan pernah berakhir.
Sekolah Dasar yang dianggap sebagai
dasar yang harus dilalui dan diperlukan bagi setiap anak, baik untuk
melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi maupun untuk hidup, tetap
mendapat sorotan tajam dari berbagai pihak. Para pengamat dan pakar pendidikan
menilai, bahwa siswa seko-lah dasar sekarang hanya pandai
menghafal, tetapi tidak mampu memecahkan masalah yang menun-tut kemampuan analitis.
Masih banyak kritik yang dilontarkan
tanpa suatu pemecahan yang berarti. Pendapat yang mengkotak-kotakkan serta memisahkan
masalah pendidikan berdasarkan penjenjangan merupakan pendapat yang perlu
dikaji ulang, sebab masalah pendidikan merupakan masalah yang kompleks, sebagai
kesatuan sistem yang merupakah suatu kebulatan.
Jenjang pendidikan dasar merupakan
landa-san bagi
jenjang pendidikan selanjutnya. Oleh ka-rena itu, pada landasan tersebut, diletakkan
dasar-dasar yang kokoh bagi tegaknya bangunan pen-didikan secara menyeluruh. Sekolah dasar enam tahun sebagai
bagian dan pendidikan dasar sem-bilan tahun merupakan lembaga pendidikan pertama bagi peserta
didik untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung. Kecakapan ini merupakan
landasan dan wahana pokok yang menjadi syarat mutlak yang harus dikuasai oleh
peserta didik.
Membaca merupakan salah satu
kemampuan dasar yang mempunyai sifat strategis sebagai akti-vitas yang kompleks dengan
mengerahkan sejum-lah besar tindakan. Kemampuan dasar ini harus dikembangkan secara optimal
sejak peserta didik duduk di kelas I SD.
Sifat strategis membaca adalah sebagai
berikut. Pertama, membaca adalah alat untuk bela-jar, untuk memperoleh informasi yang
akan diorga-nisasikan
dan disimpan oleh pikiran, untuk selan-jutnya direkonstruksi untuk penggunaan di masa
mendatang. Kedua, membaca berfungsi
mengem-bangkan pengetahuan
kebahasaan atau generalisasi kebahasaan. Ketiga,
membaca meningkatkan ke-mampuan berpikir. Oleh karena itu, usaha-usaha
memaksimalkan kemampuan membaca adalah sangat penting.
Dalam rangka
memaksimalkan kemampuan membaca ini, penulis mencoba merevitalisasi me-tode
membaca dan menulis permulaan yang ber-landaskan kepada hasil penelitian
Hibah Bersaing Suparman Herusantosa (1996). Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa Metode Global dan Metode
SAS lebih baik daripada metode lain. Terbukti pula, bahwa Metode SAS lebih baik
dari-pada Metode
Global. Oleh karena itu, dibutuhkan metode gabungan yang diberi nama Metode
Global Analisis Sintesis Fonik (GASIF). Nama Fonik per-lu ditambahkan agar tidak
tergelincir pada metode alfabetik. Metode gasif
merangkum komponen :
a) dasar-dasar linguistik (fonetik organis, psiko-linguistik, sosiolinguistik, dan linguistik des-kriptif);
b) prinsip kerja (global, analisis, sintesis, ulang-an, dan fonik);
c) peranan
alat peraga, dan
d) proses
pembelajaran menulis.
PEMBAHASAN
Dasar-dasar Lingusitik Metode
Gasif
1) Fonetik Organis
Fonetik ini mengkhususkan studinya pada cara terbentuknya bunyi bahasa oleh alat bicara, yaitu artikulator dan
titik artikulasi.
Ada dua cara yang menyebabkan
terjadinya bunyi bahasa. Pertama dengan sistem regresif, yai-tu udara keluar dan paru-paru
menuju rongga mulut atau rongga hidung, kemudian ke luar ke alam be-bas. Hampir seluruh bahasa
di dunia menggunakan sistem ini, termasuk Bahasa Indonesia. Sistem ke dua
adalah sistem ingresif, misalnya Bahasa Bima mempunyai /b, d,
g /, Bahasa Swedia mempunyai /j/ ingresif (aliran udara ke dalam).
Secara
sederhana, mekanisme alat bicara sampai menghasilkan bunyi bahasa, bisa
dituturkan sebagai berikut.
(a) Dengan gerak sekat rongga badan, maka udara
akan tersalurkan melalui paru-paru;
(b) Udara tersebut akan melalui pangkal teng-gorokan (laringal) dan pita suara menuju
ke rongga kerongkongan (faringal);
(c) Setelah tiba di rongga kerongkongan, udara
akan keluar melalui salah satu di antara rongga mulut atau rongga hidung;
(d) Kalau anak tekak bergerak ke belakang se-hingga jalan menuju rongga hidung ter-tutup, maka udara akan keluar melalui rong-ga mulut, dan yang terjadi adalah
bunyi-bunyi oral;
(e) Kalau anak tekak bergerak ke depan dan
pangkal lidah bergerak ke belakang sehing-ga saluran udara lewat rongga mulut tertu-tup, maka udara akan tersalur lewat rongga
hidung, dan bunyi-bunyi yang terjadi adalah bunyi nasal.
Berdasarkan kajian fonetik organis
ini, maka huruf yang dikenalkan pada cawu I sebanyak 10 huruf (a, i, u, e, o, m, n, s, 1, dan r). Hal
ini terjadi karena: (1) semuanya
tergolong huruf yang bisa ditahan , dan (2) untuk vokal, udara yang keluar dari
paru-paru (setelah menggetarkan pita suara) tidak mendapat hambatan baik
sebagian maupun secara keseluruhan. Soenjono Dardjowidjojo (2003 : 197)
menyebutkan kaitan biologi dengan bahasa adalah di samping struktur mulut
manusia yang secara biologis berbeda dengan struktur mulut binatang, bahasa
juga terkait dengan biologi dari segi yang lain, terutama pada proses
pemerolehan bahasa. Hal ini diungkapkan Lenneberg (1967 : 13) bahwa terdapat
keterkaitan antara biologi manusia dengan bahasa seperti umur 12 minggu bayi
tidak banyak menangis, bila didekati akan tersenyum diikuti bergumam kurang
lebih 15-20 detik. Umur 16 minggu beraksi terhadap bunyi bahasa, kadang-kadang
tertawa. Umur 20 minggu gerakan moto-riknya berupa duduk dengan
disangga, sedangkan vokalisme bahasa adalah
bergumam yang diselingi konsonan labial frikatif, spiran, dan nasal,
semua vokal telah berbeda dari bunyi di sekitar. Pertumbuhan biologi ini tampak
pula dalam kon-struksi
fisik mulut seorang anak. Pada saat seorang anak dilahirkan, fisiologis
mulutnya masih sangat terbatas, Stark (1981) tampak bahwa (a) laringnya masih
tinggi, (b) lidahnya relatif besar (c) daerah gerak di mulut sangat sempit, dan
(d) lidah masih bersandar pada belakang bibir. Hal ini sesuai dengan penelitian
Oesterreich (1999) bahwa per-kembangan lingual anak mengikuti perkembangan usianya.
Cawu II diperkenalkan sebanyak 12
huruf (b, c, d, g, h, j, k, p, t, w, y,
ng). Huruf-huruf ini diberikan pada
cawu II, dan bukan pada cawu I karena hasil analisis memnbuktikan bahwa ketidak-tepatan dan atau kesalahan
membaca siswa dise-babkan oleh (1) kesulitan membaca bunyi yang tidak bisa ditahan, (2)
secara fisik, bunyi seperti p, b, dan d sulit dibedakan, apalagi jika diberikan pa-da cawu I. Oleh karena itu,
tidak diberikan pada cawu I, dan (3) secara kognitif, anak kelas I cawu I yang
berasal dari Taman
Kanak-kanak (TK) saja masih sulit sekali untuk diminta berpikir membe-dakan, seperti u dengan n; n
dengan m. Apalagi yang berasal dari non-TK.
Berdasarkan kepada pembagian huruf
cawu I dan II di atas, maka huruf untuk cawu III adalah selain cawu I dan II,
yaitu f, g, v, x, z, ny, sy, dan kh. Jadi ada 8 (delapan) huruf. Perlu
dijelaskan bahwa /f, v, sy, dan kh/ adalah bunyi pungutan.
2)
Sosiolinguistik
Dasar-dasar sosiolinguistik menjadi
landasan penting dalam pengajaran bahasa, khususnya yang mengacu pada
keterkaitan sosiokultural anak didik dalam bidang kosakata. Kosakata yang
digunakan dalam bacaan hendaknya kosakata yang berlan-daskan keadaan sosiokultural
anak didik. Sebabnya adalah konfigurasi penalaran seseorang bergantung antara
lain kepada lingkup kosakata yang dimili-kinya dan pemilikan kosakata tersebut banyak ditentukan oleh
lingkungan sosiokulturalnya. Hal ini selaras dengan konsep bahwa sistem bahasa
suatu masyarakat bukannya membentuk atau mem-pengaruhi struktur kognitif dan struktur sosiokultural
masyarakat penuturnya, tetapi faktor
lingkungan itu hanya memicu apa
yang sudah ada pada biologi manusia (Dardjowidjojo, 2003 : 1999). Hal ini
sejalan dengan konsep E. Durkheim bahwa bahasa berfungsi sebagai wadah atau
perekam konsep-konsep budaya masyarakat penu-turnya. Oleh karena itu, maka :
(a) latar belakang sosiokultural siswa
sangat penting diperhatikan dalam materi pengajaran bahasa, dan Hakuta (1975)
dan Burt dan Dulay (1981) dan;
(b) materi pengajaran Bahasa Indonesia perlu disusun oleh para ahli
yang mempunyai lingkungan yang sama atau paling dekat dengan lingkungan
sosiokultural murid (Hakuta, 1975).
Latar belakang sosiokultural akan
meng-gambarkan
secara nyata aspirasi masyarakat dan kebutuhan anak didik yang dengan
sendirinya ini sejalan dengan kebutuhan daerah. Aspirasi masya-rakat yang dikemukakan oleh
orang -orang dewasa tergambar dalam nilai-nilai yang hidup pada masa sekarang
dan semuanya patut dilestarikan melalui pendidikan formal. Watak aspirasi
semacam ini bersifat imperatif (Raka Joni, 1984), tetapi kadang-kadang terasa
konservatif terhadap dunia pendi-dikan sehingga anak didik merasa dirugikan, setidak-tidaknya
dipaksa untuk tahu, untuk memi-kirkan, untuk membayangkan sesuatu yahg asing baginya. Untuk
menghindari hal seperti ini, harus-lah diperhatikan pula aspirasi anak didik yang
tergambar dalam kehidupan mereka sehari-hari sambil memperhatikan prospek masa
depan mere-ka. Dengan
demikian, kewenangan masyarakat untuk mengarahkan tujuan dan isi pendidikan
harus dipadukan dengan hak anak didik.
Pernyataan di atas sejajar
dengan pandangan kini yang menempatkan siswa sebagai subjek didik, bukan
sebagai objek didik. Hak anak didik seperti ini antara lain dapat terlihat pada
kegiatan interaksi verbal, baik interaksi verbal dengan orang dewasa maupun di
antara sesama mereka. Peneli-tian produksi tutur anak kemudian dimanfaatkan untuk
pengajaran bahasa. Antara lain untuk menyu-sun bahan dan urutan pelajaran sudah banyak dilakukan
orang sejak dua dasa warsa terakhir ini. Hasil
penelitian yang berbau sosiolinguistik dan psikolinguistik ini haruslah
dikembangkan ke wilayah kehidupan anak yang lebih luas.
3) Psikolinguistik
Acuan utamanya adalah umur siswa
sekolah dasar, khususnya di kelas rendah, yang kemam-puan berpikirnya berbeda
dengan siswa di kelas tinggi. Keadaan ini dihubungkan dengan penentuan
kata-kata yang mudah dan sukar dicerna. Kata-kata ini dirangkum dalam
globalitas yang berwujud cerita dengan prinsip utama metode gasif. Suku kata
yang secara psikolinguistik paling dulu diucapkan oleh anak yang baru belajar
berbahasa ialah pada, ma, ba dan tidak mudah berbicara dengan Hotdog,
Hamburger, atau pizza. Sebab itu, bunyi konsonan yang paling dulu harus
diperkenalkan ialah / p /, , / m /, dan vokal
/ a /, / i /, / ə /, / e /, / u /, dan
/ o / (Periksa Dardjowidjojo, 2000:81). Sistem menulis alphabetic menggambar-kan bahwa visual dihubungkan dengan fonem. Sistem
menulis ini sangat sukar untuk anak-anak karena fonem-fonem yang harus mereka kenal
tidak pernah diucapkan terpisah dari fonem lain, melainkan selalu dikaitkan
dengan fonem lain dalam bentuk silaba atau kata. Hal ini berimplikasi pada kemampuan
membaca anak. Sebab anak susah sekali
membedakan fonem / p / dengan / b /
atau / g / dengan / k / (Samsunuwiyati Mar’at, 2005 : 80). Sebab itu, dapat
dimengerti anak-anak yang baru masuk akan mengalami kesulitan dalam mem-baca dan menulis.
Metode mengajar membaca yang disebut
metode global mempunyai kekurangan, yaitu anak-anak menjadi kurang menyadari
prinsip-prinsip alphabetic, karena
anak terlatih melihat perkataan sebagai suatu gambar keseluruhan (integrated picture), seperti dalam
sistem menulis logographic (simbol
visual dihubungkan dengan perkataan, seperti sistem menulis orang Tionghoa).
Metode SAS (Struktur Analisis
Sintesis) kenyataannya cenderung membuat anak untuk menghafal satuan bentuk
kata, tanpa mengenal satuan bunyi. Akibatnya, apabila unsur bunyi itu
dipertukarkan tempatnya, maka anak kesulitan membacanya, meskipun unsur bunyinya
sama.
4) Dasar-Dasar Lingustik Deskriptif
Linguistik deskriptif yang sangat
sederhana diterapkan di sini, khususnya yang berkaitan dengan aspek analitis
dan sintesis bunyi bahasa.
Cara Kerja Motede Gasif
a) Prinsip
Global : Penelitian HB Suparman Herusantosa membuktikan bahwa Metode Global
dan Metode SAS dianggap paling efektif dan efisien untuk mengajarkan membaca
permulaan. Kedua metode tersebut menggunakan globalitas dalam wujud cerita
untuk mengawali tiap pelajaran. Dalam cerita tersebut disisipkan kata atau
kalimat yang nantinya akan diajarkan kepada siswa. ini merupakan cara
pengenalan kata atau kalimat sebagai wujud global dalam membaca permulaan.
b) Prinsip
Analitis : dalam cerita tersebut didemontra semua itu menunjukkan proses
analitis. Proses selanjutnya ialah mengurai-kan sebuah kata, misalnya menjadi
suku kata, dan suku kata menjadi bunyi-bunyi bahasa.
c) Prinsip
Sintesis : Setelah siswa mengenal lambang-lambang bunyi (dalam wujud
huruf), siswa diajarkan untuk menggabung-kan atau mensintesiskan huruf menjadi
suku kata dan seterusnya untuk menjadi kata dan kalimat; Proses sintesis inilah
yang menja-di kunci keberhasilan membaca
permulaan.
d) Prinsip
Ulangan : untuk memberikan ketangguhan kepada siswa tentang proses
identifikasi bunyi dan lambangnya atau lambang dan bunyinya, maka pengulangan
dianggap perlu. Yang dimaksud ulangan di sini adalah digunakannya huruf yang
sudah diajarkan pelajaran berikutnya.
e) Prinsip
Mengeja Metode fonik pada tahap awal mengharuskan siswa untuk mengeja
setiap bunyi bahasa yang dipelajari; dengan terlatih mengeja setiap bunyi
bahasa, maka siswa tidak akan asal bunyi (asbun), pada akhirnya proses mengeja
secara lahiriah (lafalnya terdengar orang lain).
Catatan Khusus Pengajaran Bunyi Bahasa
Perlu dan harus diberikan perhatian khusus pada pengenalan bunyi yang
bersifat membeda-kan. Bunyi yang bersifat membedakan ialah /m/ - /n!, /u/ -
/n/, /b/ - /p/ - /d/, /u/ - /w/, /v/ - /w/. Perhatian khusus dilakukan dengan
jalan sebagai berikut.
1)
Pengajaran membaca permulaan
pada awal cawu I hendaknya dilakukan dengan tidak menempatkan bunyi yang
bersifat membedakan dalam satu kata, sebelum siswa menge-nal dan memahami bunyi dan bentuk huruf
tersebut.
Contoh :
Benar Benar Salah
ma – ma me – me ma – na
me – me
ma – mi
na – ma
2)
Pengajaran
membaca permulaan pada akhir cawu I dapat dilakukan dengan menempat-kan bunyi yang bersifat membedakan, apabi-la siswa sudah memahami
bunyi dan bentuk huruf /m/ dan /n /.
Contoh : mina
mona
3) Pengulangan bunyi yang lebih, pada
bunyi-bunyi yang bersifat membedakan dibanding-kan dengan yang tidak bersifat membe-dakan. Bunyi yang bersifat membedakan
ialah : /m/ - /n/, dan /u/ - /n/
untuk cawu I, /b/ - /d/, /p/ - /b/, /p/ -
/d/, /u/ - /w/, /g/ - /y/, /g/ - /j/, dan
/y/ - /j/ untuk cawu II, dan /v / -
/w/ untuk cawu III.
4) Pada awal cawu II hendaknya dilakukan
dengan tidak menempatkan bunyi-bunyi yang bersifat membedakan dalam satu kata
seperti yang telah dilaksanakan pada cawu I.
Contoh
:
Benar Salah
pa – pa pa – da
da – da bo – do
bo – bo bo – di
5) Akhir cawu II dapat dilakukan dengan
menempatkan bunyi yang bersifat membeda-kan dalam satu kata,
apabila siswa sudah me-mahami bunyi dan bentuk huruf yang ber-sifat membedakan itu.
Contoh : bu — di
bu — da
pa — du
6) Pengulangan bunyi yang bersifat membe-dakan biasanya tidak cukup 3 kali, apalagi pada cawu I. Kecuali pada siswa
yang ke-mampuannya di atas cukup.
7) Bunyi-bunyi yang tidak bersifat membeda-kan seperti /a/, /i/, /1/ biasanya pengulangan ke tiga sudah cukup untuk
mengantarkan pe-mahaman anak.
8) Dasar pemikiran untuk tidak menempatkan
bunyi-bunyi yang bersifat membedakan dalam satu kata pada tahap awal adalah
kemampuan berpikir siswa masih tunggal, dan belum mampu berpikir majemuk pada
usia 6 - 7 tahun (kelas I SD).
Alat-alat Bantu Pengajaran
Alat bantu yang dianggap
menunjang pelak-sanaan metode
Gasif ialah:
a) Gambar
peraga khususnya gambar yang digunakan secara klasikal untuk mengawali sebuah
pelajaran yang selalu dimulai dengan sebuah cerita untuk menarik perhatian
siswa;
b) Kartu-kartu
huruf, kartu suku kata, kartu kata dan kartu kalimat yang bersifat individual
maupun klasikal;
c) Kartu
gambar dan huruf, kartu jenis ini sangat diperlukan untuk melatih siswa dalam
aspek asosiasi antara struktur kata atau rang-kaian kata dan maknanya, memberikan pe-mahaman tentang struktur kata;
d) Papan
tulis garis kotak, papan tulis garis tiga, papan flanel, selain papan biasa.
PENUTUP
Metode Gasif adalah metode mengajar membaca – menulis
permulaan yang merupakan gabungan metode global, analitis – sintesis, dan fonik
ini dimaksud untuk mengeliminasi model hafalan yang selama ini digunakan oleh
siswa sebagai cara belajar.
Contoh Pengajaran Membaca dan Menulis Per-mulaan dengan Metode Gasif.
Pelajaran 1
I. Kegiatan di Sekolah
A. Keterampilan Mendengarkan
Tema :
Keluarga
Huruf yang dikenalkan : b
Pelaksanaan Azas Global Metode Gasif.
Guru meminta siswa mendengarkan ucapannya,
“Coba dengarkan cerita ini !
Keluarga Pak Basri (misalnya)
Penceritaan
wacana ini oleh guru meru-pakan
pelaksanaan prinsip kerja metode GAS1F, yaitu azas global I.
Selanjutnya, guru meminta siswa untuk
memperhatikan gambar dengan ucapan, “Man kita perhatikan gambar ini! (sambil
menunjuk gambar yang ada dalam bacaan). Ini merupakan azas global II.
Guru
menginformasikan bahwa gambar
tersebut adalah gambar keluarga “Pak Basri”, yang terdiri atas Pak Basri, Bu Darmi, dan anak-nya, Eka dan Cica yang sedang berada di kebun raya.
Coba
tanya siswa “Yang mana Pak Basri?; Bu Darmi?; Eka?; Cica? Ciptakan situasi keke-luargaan dan keakraban. Jika sebagian besar sis-wa sudah menjawab benar, mintalah seorang
sis-wa ke depan kelas (yang
paling berani) untuk menunjuk ke gambar sambil menyebut namanya.
Usahakan
jangan memaksa siswa yang be-lum berani, apalagi yang sulit bicara. Kegiatan yang akan dilakukan siswa
di depan kelas ialah mengatakan:
Ini Pak Basri
Ini Bu Darmi
Ini Eka
Ini Cica
Catatan
1) Pada tahap awal, usahakan memilih
siswa dan yang paling berani sampai yang masih dianggap berani. I
2) Jangan memaksa anak yang memang
belum berani ke depan kelas, apalagi sampai menangis.
3) Berikan pujian kepada anak yang
berhasil dengan baik.
4) Jangan mencela, apalagi ada anak
setelah di depan kelas gagal! kurang berhasil.
5) Berikan bantuan kepada siswa yang
mengalami hambatan.
B. Keterampilan Membaca
Keterampilan
membaca untuk siswa kelas I berada pada posisi membaca permulaan. Pada posisi
seperti ini, guru hendaknya banyak ber-peran sebagai motivator dan generator agar kete-rampilan ini lebih cepat tercapai.
Untuk mencapai tujuan ini,
maka guru me-lakukan prinsip
kerja metode GASIF azas global HI, yang berwujud sebuah kata yang dituliskan di
bawah gambar seperti berikut.
b o l a
B.1 Analisis
(Pelaksanaan azas analisis Meto-de Gasif)
Kata “bola”
yang terdapat pada gambar di atas dijadikan pangkal tolak proses analisis
pengenalan bunyi b (eb), seperti bola.
Contoh :
|
BI
|
bi
|
||
|
b
|
i
|
b
|
i
|
|
b
|
i
|
b
|
…..
|
|
…..
|
i
|
…..
|
i
|
|
b
|
…..
|
b
|
…..
|
|
b
|
i
|
…..
|
…..
|
Latihan ini dimaksudkan untuk mengingatkan
anak kepada bentuk bunyi huruf yang telah dipe-lajari, sekaligus latihan menulis. Bacaan pada
Buku Pegangan Murid (BPM) digunakan untuk latihan membaca di rumah.
C. Keterampilan Berbicara
C.1 Pertanyaan
Sebelum pelajaran dimulai dan BPM dibuka,
gu-ru sebaiknya bertanya
kepada siswa,
1) Apa saja yang kamu lakukan di rumah?
2) Siapa yang berani angkat tangan?
3) Siapa
yang berani menjawab?
4) Siapa
namamu?
5) Berapa
saudaramu?
6) Apakah kamu punya kakak?
7) Apakah
kamu punya adik?
8) Siapa
nama orang tuamu?
9) Di
mana kamu tinggal?
10) Apa cita-citamu?
C.2 Tujuan pertanyaan di atas adalah sebagai
berikut.
1) Bagian ini bertujuan untuk mengembangkan keterampilan berbahasa
lisan siswa;
2) Mengenal lebih rinci benda yang ada di
lingkungan keluarga; dan
3) Membina rasa cinta anak pada lingkungan maupun keluarga.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar